Seputar Cerita Horor Hantu Itu Ada "Peri Pohon"

Ada suatu cerita tentang sebuah pohon yang aneh dan misterius di desaku. Pohon itu adalah sebuah pohon nangka yang tumbuh di halaman belakang desa. Orang - orang menyebutnya "Pohon Manusia" karena dibatang kayunya terdapat wajah - wajah manusia yang terukir disana.

**************

Semua itu berawal dari tiga orang sahabat yang terdiri dari Nining, Deden dan Raka. Mereka selalu bermain petak umpet di kebun belakang desa yang banyak di tumbuhi pohon - pohon buah, seperti nangka, jambu, dan mangga. Tak jarang selepas bermain, mereka memetik buah - buahan itu untuk dimakan atau sengaja di bawa pulang. Tak ada yang marah atas prilaku mereka karena anak - anak itu adalah anak yang baik dan sopan.

Setiap main petak umpet, Deden selalu mendapat giliran jaga karena tubuhnya yang gemuk dan gerakannya yang kurang lincah. Sering kali ia tak dapat menemukan teman - temannya yang biasa bersembunyi tak jauh dari pohon "pos jaga". Sehingga saat ia kembali, Nining dan Raka selalu tiba terlebih dahulu untuk mengamankan pos. Kalau sudah begitu, Deden akan terus berjaga hingga permainan usai. Meskipun demikian, anak gemuk itu tidak pernah mengeluh. Ia selalu tertawa ceria dan menikmati permainannya.

Suatu saat di sore hari, seperti biasa tiga orang anak itu bermain petak umpet di kebun. Kali ini entah kenapa Deden selalu menemukan kedua temannya di tempat persembunyian masing - masing. Nining dan Raka tak menyangka serta kaget mengetahui anak gemuk itu tidak seperti dulu lagi. Tetapi Deden yang tak biasa mendapat giliran sembunyi pada akhirnya menjadi penjaga lagi karena mudah ditemukan oleh temannya.

Ketika permainan selesai, Nining dan Raka bertanya kepada Deden tentang apa yang membuat ia mudah untuk bisa menemukan mereka. Dengan ringan ia menjawab, dirinya diberi tahu oleh peri pohon. Kedua temannya bingung siapa yang ia maksud dengan "peri pohon" itu?. Bocah gemuk itu kemudian menunjukannya pada mereka.

Deden membawa kedua temannya ke pohon nangka tempat ia berjaga hari itu. Ia mengatakan di sinilah ia bertemu dengan peri pohon. Deden menggambarkan sosok peri pohon itu seperti seorang perempuan cantik dengan kulit putih dan rambut hitam kilau panjang. Nining dan Raka heran, mereka tak melihat wujud seorang peri di pohon itu. Anak gemuk itu menjelaskan pada mereka kalau ingin bertemu dengan peri pohon harus datang pada tengah malam, karena saat itulah sosok peri pohon tersebut akan menampakkan diri.

***************

Malamnya, Nining, Raka dan Deden mengendap - ngendap keluar dari rumahnya masing - masing. Mereka bertemu di tempat yang dijanjikan sebelumnya, di bawah pohon nangka tempat dimana peri pohon itu akan muncul.

Batang pohon nangka itu tidaklah terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil, namun memiliki daun yang rindang dan sejuk. Hampir disetiap dahannya terdapat buah - buah nangka yang masak. Diantara dahan - dahan itu terdapat sebuah dahan yang berdaun rindang di ujungnya, dan terdapat dua buah nangka yang menggantung di tengahnya. Deden meminta kedua temannya untuk memperhatikan dahan itu sambil meniru mantra yang diucapkannya.

"Nadia sang peri,..Datanglah pada kami!"

"Nadia sang peri...Datanglah pada kami!"

"Nadia sang peri....Datanglah pada kami!"

Usai pengucapan mantra, mereka melihat pohon itu bergerak. Dahan - dahan pohon itu bergerak - gerak dan daunnya bergoyang sehingga menciptakan suara mendesir. Kemudian perhatian mereka tertuju kembali pada dahan yang sebelumnya di tunjuk oleh Deden.

Ranting pohon itu bergoyang dengan hebat. Batangnya perlahan - lahan membesar dan kulit kayunya berubah warna menjadi putih. Permukaannya pun semakin halus. Perubahan - perubahan ganjil pun terlihat pada daun - daun lebat di ujung dahan dan kedua buah nangka yang menggantung di tengah. Dalam beberapa saat, dahan itu berubah menjadi setengah badan seorang wanita cantik bertelanjang dada dengan penampilan persis seperti yang di gambarkan Deden.

Nining dan Raka tak percaya atas apa yang mereka lihat. Tubuh mereka lemas dan jatuh terduduk menyaksikan keajaiban yang terjadi pada pohon itu. Deden yang tampak telah terbiasa, memperkenalkan wanita itu sebagai Nadia, sang peri pohon.

Nadia tersenyum saat menyapa mereka. Suaranya yang lembut dan ramah, perlahan - lahan mengusir ketakutan pada diri Nining dan Raka. Ia mengatakan pada mereka untuk tidak takut pada dirinya karena Nadia ingin menjadi teman mereka. Dalam waktu singkat, ketiga orang anak itu menjadi akrab dengan sang peri pohon. Mereka menerima Nadia sebagai teman mereka dengan syarat agar merahasiakan sosoknya dari orang lain. Tiga sekawan itu menyanggupinya.

*************

Setiap tengah malam pada hari - hari berikutnya, tiga sekawan itu selalu mengunjungi Nadia di kebun. Mereka mengobrol tentang segala hal, bersenda gurau pada peri pohon itu layaknya manusia biasa. Nadia senang dengan kedatangan mereka. Ia mengatakan impiannya untuk menjadi manusia normal. Sayangnya, ketika Nining menanyakan apa yang membuatnya menjadi seperti ini, Nadia tak mau menjawabnya. Ia berkata bahwa dirinya sendiri tak tahu jawabannya. Ia sejak awal sudah berwujud seperti itu dan sudah lama juga berada di tempat itu. Pertemuan mereka berakhir menjelang dini hari.

***************

Pertemuan rahasia anak - anak dengan Nadia itu akhirnya tercium oleh kedua orang tua mereka. Nining, Raka dan Deden kemudian dilarang oleh ayah dan ibu mereka untuk meninggalkan rumah saat larut malam. Akibatnya, pada malam selanjutnya, tak ada satupun diantara mereka yang mengunjungi Nadia. Sang peri pohon itu pun kesepian dan sedih. Ia lalu bernyanyi pada tengah malam untuk menghilangkan rasa kesepian sekaligus memanggil teman - teman manusianya. Walaupun tak kunjung datang, Nadia terus bernyanyi agar keinginannya terwujud, sehingga nyanyiannya itu terdengar ke telinga masyarakat (warga desa).

Warga desa mulai resah karena nyanyian itu. Orang tua Nining, Raka dan Deden mencurigai nyanyian itu karena sebab mengapa anak - anak mereka menyelinap keluar di tengah malam. Saat mereka menanyakannya, anak - anak itu bungkam sesuai dengan janji mereka pada Nadia untuk merahasiakan segala sesuatu tentangnya.

Sayangnya, Raka tak mampu mempertahankan janjinya itu. Orang tuanya berhasil membujuk dirinya untuk mengatakan sesuatu yang ganjil di kebun itu. Iapun kelepasan mengungkapkan tentang seorang peri yang mendiami pohon nangka. Berita itupun akhirnya menyebar ke seluruh penjuru desa.

**************

Malam harinya, semua laki - laki warga desa berkumpul di kebun, tepatnya di depan pohon nangka yang ramai di bicarakan. Mereka ingin memastikan bahwa apa yang mereka dengar adalah benar.

Sang kepala desa pun bertindak. Tepat di tengah malam ia memanggil Nadia seperti yang dijelaskan oleh Raka. Berkali - kali ia memanggilnya, namun sang peri pohon tak kunjung datang. Warga mulai meragukan cerita itu, tetapi sang kepala desa belumlah dirinya merasa puas. Ia segera mengambil kapak untuk menebangnya.

Maka diayunkanlah kapak itu menebas batang pohon nangka. Seketika terdengar jerit kesakitan dari pohon tersebut tatkala mata kapak menebas kulit kayunya. Warga yang melihatnya terkejut. Tepat di luka tebasan, mengalirlah darah merah.

Jerit kesakitan itu tak membuat para lelaki warga desa takut. Sebaliknya, mereka malah menjadi beringas. Masing - masing mengambil alat - alat tajam kemudian menghujamkannya kepada pohon tersebut. Jerit rasa sakit itu bersahut - sahutan membelah keheningan malam.

Tebasan demi tebasan yang dihujamkan bertubi - tubi, akhirnya menumbangkan pohon itu. Darah pun membajiri tanah kebun. Para lelaki warga desa belum juga merasa puas. Mereka memotong - motong dan membelah setiap batang, dahan, ranting serta daun - daun yang tersisa. Mereka pun memakan buah nangka yang bersimbah darah merah itu. Mereka terus melakukannya hingga pohon itu habis menjelang fajar.

Ke esokan harinya, kegiatan warga desa berjalan normal seperti biasanya yang tak terjadi apa - apa. Hanya saja ketiga sahabat, Nining, Raka dan Deden menangis sedih karena sangat merasa kehilangan salah satu teman baru mereka.

Pada malam harinya terdengar sayup - sayup suara perempuan yang sedang menangis tersedu - sedu. Sepertinya seseorang telah kehilangan sesuatu yang berharga.

***************

Kegemparan melanda desa pada ke esokan harinya. Bagaimana tidak, warga desa mendapatkan suami serta anak lelakinya hilang entah kemana. Para ibu - ibu panik mencarinya kesana - sini. Beberapa diantara mereka menangis bahkan pingsan. Kemanapun mereka mencari, para lelaki warga desa tetap tak ditemukan.

Tiba - tiba seorang warga terkejut bukan main ketika menemukan pohon nangka yang ditebang pada malam hari itu ternyata masih terlihat tegak berdiri seperti tak terjadi sesuatu padanya. Mereka terheran - heran merasa tak percaya dengan ini. Mana mungkin pohon itu tumbuh kembali dalam waktu dua malam? Al hasil, warga desa pun semakin histeris saat menemukan wajah suami dan anak laki - laki mereka terpahat dalam batang pohon itu. Tak dapat dipercaya, di permukaan kulit kayu yang membalut tubuh pohon itu bertebaran raut - raut wajah ketakutan dari lelaki - lelaki yang mereka cintai.

Para lelaki dan ibu - ibu warga desa menangis meraung - raung di depan pohon nangka. Mereka memanggil nama - nama orang yang mereka sayangi sambil meraba wajah - wajah mereka. Suasana ini terasa seperti pemakaman masal.

Diantara kerumunan wanita - wanita yang bersedih itu, seorang wanita muda berkulit putih dengan rambut hitam panjang berkilau menyelinap keluar meninggalkan mereka. Di wajahnya tersingging senyum lebar karena telah apa yang di impikannya sejak lama akhirnya terwujud.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Horor Di Perkosa Setan Yang Tak Terlihat

Cerita Horor Kejadian Suster Gepeng di Rumah Sakit Soetomo di Daerah Surabaya

Cara Pemanggilan Hantu Jelangkung Benar Atau Tidaknya Anda Boleh Mencobanya!