Seputar Cerita Horor Hantu Itu Ada "Ayahku Ternyata Babi Ngepet"
Tak ada siapapun dari kamarku. Yang ada hanya se ekor babi yang perutnya terburai. Dan dia adalah ayahku......!
*****************
Setelah menekuni studi selama enam tahun, hari itu aku pulang ke desa dimana tempat kelahiranku. Sepanjang perjalanan dari Bandung, hatiku di buai oleh perasaan gembira dan bahagia yang tiada taranya. Betapa tidak, aku kembali dengan mempersembahkan gelar kesarjanaan, jelasnya Insinyur Pertambangan. Alangkah senang dan bahagia nya hati ayah, karena segala jerih payahnya tidak sia - sia begitu benakku. Anak yang dibanggakan nya dari keluarga dan teman sejawat, telah memperoleh kemenangan dalam studinya.
Namun alangkah terkejutnya aku, ketika lepas maghrib tiba rumah. Nampak banyak sosok - sosok tak jelas diantara warga desa yang memegang tombak, parang, arit dan tali penjerat. Hatiku berdetak tidak karuan. Ada apa sebenarnya? Demikian pikirku. Beberapa belas meter di depan rumah, langkahku terhenti ketika terdengar suara raungan nyaring yang menyayat hati. Setelah kudengar dengan seksama, dapat di pastikan bahwa yang menangis itu adalah ibuku sendiri.
Apa yang terjadi? Pikiranku semakin cemas. Apakah ibu menangis karena kematian ayah? Aku segera menghambur masuk ke dalam rumah. Tapi di pintu, ibuku sudah menyambutku, memelukku erat sekali sembari menangis meraung - raung. Kubiarkan dulu ibu menangis, biar beban yang menghimpit dadanya bisa sedikit berkurang.
"Mana ayah bu?", tanyaku setelah ibu menghapus air matanya.
"Karena ayahmu lah, makanya ibu menangis", sahut ibuku.
"Lantas, sebenarnya apa yang terjadi atas diri ayah bu?", desakku semakin penasaran. Tapi ibu terdiam, kemudian menundukkan kepala.
Beberapa sesepuh desa yang ku kenal, seperti Mbah Kardi, Mbah Sudirun, Mbah Karta dan lain - lain, termasuk kepala desa Pak Soleh, juga terdiam diri dan hanya memandangiku. Kelihatannya mereka seperti bingung, tidak tahu apa yang harus di perbuat.
Ketika kutanyakan lagi dimana ayah, ibuku berpaling ke arah kamar. Kamar dalam rumah kami, hanya ada dua. Yang dekat dengan dapur, itu kamar ayah dan ibuku dan sementara kamar yang satunya lagi, dulu itu adalah kamarku.
Aku segera berlari menuju ke kamar ayahku. Tapi ternyata kosong. Lalu aku keluar dan masuk ke kamar sebelahnya, bekas kamarku itu. Dalam kamar itu sudah tidak ada lagi ranjangku dan lemari pakaian. Dan di sudut kamar yang sudah kosong itu, kulihat se ekor babi agak sedang menyandar ke dinding. Perutnya luka, dan darah masih terus menetes. Yang mengherankan, dari sudut matanya tampak ada butiran - butiran air yang jernih.
Aku terbodoh - bodoh menyaksikan binatang tersebut. Kemudian aku membalikan tubuh, berjalan dengan tergesa untuk menemui para sesepuh desa yang sedang duduk di atas tikar seperti orang yang layaknya akan kenduri.
"Mana ayahku?", tanyaku setiba di hadapan mereka.
"Apakah tak kau temukan didalam kamar tadi?", ujar Pak Soleh.
Aku menatap kepala desa dengan penuh rasa keheranan.
"Tak ada siapa - siapa didalam kamar", kataku memastikan. "Yang ada hanya se ekor babi!".
"Dialah ayahmu, Andi", ujar Mbah Kardi.
Mendengar keterangan itu, spontan aku melongo dan mata terbeliak. "Apa? Ayahku babi?", tanyaku secara perlahan.
"Begitulah kenyataannya, An", ujar kepala desa. "Kebetulan sekali malam ini kau pulang. Bertepatan dengan kejadian yang telah menggegerkan desa kita".
"Jadi, ayahku babi?", ulangku bagaikan hati memang tak yakin.
"Ya, ayahmu ternyata siluman babi, dan dia tidak berdaya sekarang. Dia terluka", ujar Mbah Kardi.
"Di tombok?", ucap tanyaku.
"Kami tidak menyangka, bahwa babi yang menyusup ke desa kita adalah babi siluman. Kami memburunya, mengepung untuk mengusirnya. Tapi babi itu malah melawan. Karena itu tidak ada pilihan lain, kecuali menombaknya. Dan kami terkejut sekali ketika menyaksikan babi itu tidak lari kemana - mana, melainkan kedalam rumah kalian. Aneh bukan? Nah, dari keterangan Mbah Kardi, barulah kami tahu bahwa babi itu adalah ayahmu", ungkap Pak Soleh.
Aku masih penasaran, namun kenyataan itu tidak dapat di bantah lagi.
"Kami sekarang sedang menunggu pemulihan jasad ayahmu", imbuh kepala desa. "Kalau memang ayahmu se ekor siluman babi atau pemilik ilmu pesugihan babi ngepet, tentu dia akan berubah wujud kembali sebagai manusia menjelang kematiannya".
Tiba - tiba terdengar lagi pekik ibuku, memanggil - manggil nama ayahku, dari dalam kamar. Bersamaan dengan itu kami menyerbu kedalam kamar. Kemudian kami terdiam sendiri, memperhatikan dengan seksama apa yang bakal terjadi. Sementara itu ayahku, tetap tak beranjak dari keadaan posisi nya yang pada semula, seperti saat kulihat tadi.
Keadaan terasa semakin mencekam ketika Mbah Kardi keluar dan masuk lagi sambil membawa pedupan yang dari bahannya dari tempurung kelapa. Dupa itu tepat diletakkan di tengah - tengah pintu kamar. Kami segera menyingkir agak ketepo, merapat ksederhanakan. Kamk segera .inginkan merapat ge senjah.
Ketika kemenyan terbakar dan asapnya menyeruak memenuhi ruangan kamar, kami mendengar suara tangisan ayahku yang sangat menyayat hati. Mbah Kardi lalu meminta segelas air putih yang ke dalamnya sudah dimasukkan daun waru dan reramuan lainnya. Ibuku segera membawakannya, kemudian diletakkan di depan perdupaan. Sementara Mbah Kardi masih terus berkomat - kamit sambil memejamkan mata.
"Nasibmu telah ditentukan, nasib yang kau pilih sendiri", ujar Mbah Kardi kemudian seperti berkata pada diri sendiri. Tak lama, kelihatanlah perubahan sosok tubuh babi itu menjadi Subandi, ayahku. Namun luka di perutnya tidak hilang. Luka itu sangat parah, telah merobek bagian perut hingga memutuskan bagian organ dalam tubuh.
"Apa lukanya tak bisa disembuhkan Mbah?", tanya ibuku.
Mbah Kardi menggeleng. "Suamimu malah sudah tidak bisa bicara lagi, Inah", katanya kemudian.
"Kini apa yang harus dilakukan?", tanya lagi ibuku.
Mbah Kardi mengangkat pundak. Lalu berkata, "Tidak ada yang dapat kita lakukan lagi untuknya".
Mendengar itu ibuku menangis lagi meraung - raung. "Mas Bandi, lihatlah anakmu Andi, sudah pulang", teriaknya.
Ayah menatapku dengan pandangan sayu sekali. Bibirnya bergerak - gerak seperti sedang mengatakan sesuatu. Tapi suaranya tidak pernah kedengaran lagi.
Aku ingin ayahku gembira menyambut keberhasilanku. Tapi ia kini tak dapat mengatakan apapun lagi, selain mengangguk - ngangguk dengan mulut terkatup - katup.
Tak lama setelah ibu menjerit, ayahku menutup mata untuk yang terakhir kalinya dan selama - lamanya. Perasaan malu bahwa ayahku ada se ekor siluman babi, kubuang jauh - jauh ketika aku ingin menyempurnakan pemakamannya. Kebetulan, tak ada pula orang - orang desa kami, para sahabat dan handai tolan yang menyindirku. Mereka semuanya mengatakan ikut turut berduka cita dengan kematian ayahku, biarpun ayahku se ekor siluman babi.
Sesudah selamatan hari ke tujuh, aku mendatangi Mbah Kardi dan kepala desa. Aku meminta maaf atas kejadian yang telah menimpa ayahku. Selain itu, kepada mereka aku mohon doa restu, karena beberapa hari lagi akan pergi untuk memenuhi panggilan tugas di luar jawa.
Comments
Post a Comment